Biografi Johannes Abraham Dimara: Pahlawan Asli Papua untuk Indonesia

Biografi Johannes Abraham Dimara: Pahlawan Asli Papua untuk Indonesia

Mayor TNI Johannes Abraham Dimara, Pahlawan Nasional Indonesia dari Papua. Namanya diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara TNI AU yang berada di Merauke tepatnya pada tanggal 24 September 2018.

Semasa hidupnya, Dimara pernah ikut serta dalam memperjuangkan pembebasan wilayah Irian Barat.  Ia diangkat menjadi Ketua Organisasi Pembebasan Irian Barat (OPI).  Perjuangannya ini bahkan menginspirasi Soekarno untuk membuat patung pembebasan Irian Barat.

  • Nama asli: Johannes Abraham Dimara
  • Nama Sapaan:
  • Tempat lahir: Kabupaten Biak Numfor
  • Tanggal lahir: 16 April 1916
  • Meninggal: 20 Oktober 2000
  • Umur: 84 tahun (m.)
  • Pangkat: Pembantu Letnan Satu; Mayor (1962)
  • Pengabdian: Kekaisaran Jepang (1942–1945); Indonesia (1945–1962)

Diangkat Sebagai Mayor

Johanes Abraham Dimara yang saat itu berpangkat Bintara (Pembantu Letnan) menarik perhatian Presiden. Atas jasa-jasanya yang luar biasa, ia mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Pembantu Letnan menjadi Mayor—sebuah penghargaan yang jarang terjadi dalam sejarah TNI.

Pelatihannya dipimpin langsung oleh Jenderal Gatot Subroto, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Angkatan Darat, dan berlangsung di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) pada 28 April 1962. Meskipun tidak terlibat langsung dalam jajaran Komando Trikora, Dimara berperan aktif dalam bidang politik sebagai anggota Dewan Pertahanan Nasional.

Johanes Abraham Dimara wafat di Jakarta pada 20 Oktober 2000. Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya, pemerintah menganugerahinya beberapa tanda kehormatan, di antaranya Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu dan Satyalancana Bhakti.

Latar belakang Johanes Abraham Dimara

Johanes Abraham Dimara dilahirkan pada tanggal 16 April di Korem, Biak Utara, Provinsi Papua. Pada usia 13 tahun ia diambil sebagai anak angkat oleh Elias Mahubesi, seorang anggota polisi Ambon dan membawahnya ke Ambon. Di kota ini, Johanes Abraham Dimara menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah dasar pada tahun 1930, kemudian memasuki sekolah pertanian di Laha. Dari tahun 1935 sampai 1940 ia menempuh pendidikan sekolah agama (Injil). Sebagai lulusan sekolah agama, ia bekerja sebagai guru Injil di Kecamatan Leksuka, Pulau Buru.

Patung dan Monumen Johannes Abraham Dimara

Memasuki Dunia Keprajuritan

Saat bala tentara Jepang memasuki Pulau Buru pada awal 1942, semua sekolah ditutup. Pendeta yang memimpin sekolah sekaligus sebagai penyandang dana ditangkap oleh Jepang, sementara para guru pembantu kehilangan pekerjaan.

Memasuki dunia kemiliteran, ia harus menjalani pelatihan militer, termasuk penggunaan senjata. Penampilannya pun berubah setelah mengenakan seragam. Johannes Abraham Dimara diangkat sebagai Kempei-ho (Pembantu Kempei atau Polisi Militer Jepang) dan ditempatkan di Markas Kempetai di Pulau Buru. Sebagai Kempei-ho, tugasnya adalah menyelidiki keamanan, mengamati aktivitas orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata atau membantu musuh hingga perang berakhir.

Masa Perjuangan Kemerdekaan

Setelah Jepang menyerah, Johanes Dimara—seorang mantan Kempei-ho—mulai menyadari ketidakadilan pemerintahan kolonial Belanda, termasuk diskriminasi rasial dan keterbatasan pendidikan. Ia mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan RI pada Mei 1946 melalui ekspedisi kapal kayu KM Sindoro dan KM Semeru ke Maluku. Bersama pemuda setempat, ia merencanakan serangan terhadap Namlea untuk mengusir NICA. Pada 8 April 1946, sekitar 300 pemuda berhasil menguasai Namlea selama lima hari sebelum Belanda mengirim kapal perang HMS Princess Irene untuk merebut kembali kota tersebut.

Dimara melarikan diri ke Pulau Sanana tetapi ditangkap dan dibawa ke Ambon, lalu diadili dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Ia kemudian berhasil melarikan diri ke Pulau Seram, tetapi kembali tertangkap dan menyerahkan diri. Setelah dipindahkan ke penjara di Makassar, ia dibebaskan pada Desember 1949 setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.

Ketika Republik Maluku Selatan (RMS) dideklarasikan, Dimara bergabung dengan Batalyon Pattimura untuk melawan RMS di Pulau Buru dan Seram. Dalam pertempuran, ia tertembak di bahu dan dirawat di Makassar, di mana Presiden Soekarno sempat menemuinya. Setelah sembuh, ia kembali ke Ambon dan mendapat tugas membentuk Organisasi Pembebasan Irian (OPI) untuk memperjuangkan kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

Komandan Pasukan Infiltran

Organisasi Pembebasan Irian (OPI) adalah organisasi rahasia yang bertugas melatih prajurit dari suku Papua untuk melakukan infiltrasi ke Irian Barat dan membangun opini pro-NKRI. Presiden Soekarno memerintahkan Dimara untuk memasuki Irian Barat pada 3 April 1954. Pada 17 Oktober 1954, ia dan pasukannya memulai operasi dari Ambon menuju Dobo, Kepulauan Aru, lalu ke Teluk Etna. Mereka tertangkap patroli Belanda, dan meski ada perlawanan, akhirnya 20 orang, termasuk Dimara, ditawan dan dipenjara di Sorong, kemudian dipindahkan ke Digul selama tujuh tahun.

Dimara dibebaskan pada 18 April 1961, empat bulan setelah Trikora dicanangkan. Namun, ia mengalami pukulan pribadi karena istrinya telah menikah lagi. Setelah melapor ke Jenderal Nasution, ia dikirim ke PBB sebagai perwakilan Irian Barat. Pada 1961, ia diangkat menjadi Ketua Gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB) dan kemudian menjadi anggota Dewan Pertahanan Nasional. Kampanye perjuangan pembebasan Irian Barat berlanjut dengan rapat-rapat umum di seluruh Indonesia, di mana Dimara selalu hadir sebagai tokoh utama.

Penghargaan Johannes Abraham Dimara

  • Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu
  • Satyalancana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua
  • Satyalancana Satya Dharma
  • Satyalancana Bhakti
  • Satyalancana Gerakan Operasi Militer III
  • Satyalancana Perintis Pergerakan kemerdekaan

Source: google.com

Kategori Terkait :

Pos Berikutnya:

Bagaimana Pendatamu:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BIODATA TERBARU

BIOGRAFI TERBARU