Biografi Ada Yonath: Perintis Ilmu Ribosom dalam Dunia Biokimia

Biografi Ada Yonath Ilmuwan Biokimia dan Biofisika

Ada Yonath atau Ada E Yonath adalah seorang biofisikawan luar biasa yang menjabat sebagai direktur di Martin S. and Helen Kimmel Center for Biomolecular Structure and Assembly di Weizmann Institute of Science, Israel. Perjalanan kariernya penuh tantangan, menghadapi banyak skeptisisme dari komunitas ilmiah.

Namun, kerja kerasnya membuahkan hasil ketika ia dianugerahi Nobel Kimia pada tahun 2009 atas penelitiannya mengenai ribosom. Prestasi ini menjadikannya perempuan Israel pertama yang menerima penghargaan Nobel serta wanita pertama dalam 45 tahun yang memenangkan Nobel Kimia. Yonath meyakini bahwa rasa ingin tahu, dedikasi, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan adalah kunci keberhasilannya.

  • Nama Lengkap: Ada E. Yonath
  • Tempat Lahir: Yerusalem, Mandat Palestina (sekarang Israel)
  • Tanggal Lahir: 22 Juni 1939
  • Kebangsaan: Israel
  • Profesi: Ahli biokimia dan kristalografi
  • Institusi: Weizmann Institute of Science
  • Bidang Keahlian: Struktur ribosom, kristalografi protein, biokimia

Kehidupan dan Pendidikan Ada E. Yonath

Ada Yonath lahir pada 22 Juni 1939 di Yerusalem dalam keluarga Yahudi keturunan Polandia yang hidup dalam kondisi ekonomi sulit. Ayahnya adalah seorang rabi yang juga menjalankan toko kelontong, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Mereka tinggal di sebuah apartemen kecil yang harus dibagi dengan dua keluarga lain. Meski hidup dalam keterbatasan, sejak kecil Yonath menunjukkan ketertarikan besar terhadap dunia sekitar dan sering melakukan eksperimen kecilnya sendiri.

Sekolah di lingkungannya lebih banyak berfokus pada pendidikan agama untuk anak laki-laki dan keterampilan rumah tangga untuk perempuan. Namun, seorang guru taman kanak-kanak melihat potensi Yonath dan memberinya pelajaran tambahan setelah sekolah. Berkat bantuan guru tersebut, ia akhirnya dapat melanjutkan pendidikan di sekolah yang lebih baik. Yonath juga terinspirasi oleh ilmuwan wanita legendaris, Marie Curie.

Saat berusia 11 tahun, Yonath kehilangan ayahnya setelah lama menderita sakit. Kehilangan tersebut membawa dampak besar pada kondisi ekonomi keluarganya. Ia pun berusaha membantu keuangan keluarga dengan bekerja di berbagai tempat. Namun, penghasilannya masih belum cukup, sehingga ia dan ibunya memutuskan pindah ke Tel Aviv untuk tinggal lebih dekat dengan keluarga ibu.

Meski orang tuanya tidak memiliki pendidikan formal, mereka selalu mendukung keinginannya untuk terus belajar. Yonath menyelesaikan sekolah menengahnya di Tichon Hadash, Tel Aviv, dengan biaya yang ia kumpulkan sendiri dari mengajar matematika kepada siswa yang lebih muda maupun seusianya.

Setelah menyelesaikan wajib militernya di Medical Forces, Yonath melanjutkan studi di Hebrew University of Jerusalem, mengambil jurusan kimia, biokimia, dan biofisika. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Weizmann Institute of Science dari tahun 1964 hingga 1968 dengan fokus pada protein berserat (kolagen). Saat itu, ia belum memiliki pelatihan dalam metode resolusi tinggi untuk analisis struktur molekuler.

Karier dan Penelitian Ada Yonath

Setelah meraih gelar doktor, Ada Yonath memperluas penelitiannya dengan bekerja di berbagai institusi bergengsi di luar negeri, seperti Carnegie Mellon University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Setelah beberapa waktu, ia kembali ke Weizmann Institute of Science dan mendirikan laboratorium pertama di Israel yang khusus mempelajari kristalografi biomolekuler.

Ketertarikannya pada struktur ribosom mulai berkembang pada tahun 1970-an. Ribosom adalah bagian penting dalam sel yang berperan dalam sintesis protein, tetapi kompleksitas dan ukurannya yang sangat kecil membuatnya sulit untuk diteliti. Yonath menghadapi berbagai tantangan dalam upayanya untuk memahami bagaimana ribosom berfungsi, namun semangatnya tak pernah pudar.

Pada dekade 1980-an, ia memperkenalkan metode inovatif bernama cryocrystallography. Teknik ini menggunakan suhu sangat rendah untuk membekukan sampel biologis, mencegahnya dari kerusakan akibat paparan sinar-X selama pencitraan. Pendekatan ini menjadi gebrakan dalam dunia kristalografi dan membantu para ilmuwan mempelajari struktur biomolekuler dengan lebih baik.

Setelah bertahun-tahun penelitian mendalam, Yonath akhirnya berhasil mengungkap struktur tiga dimensi ribosom dengan metode kristalografi sinar-X. Penemuannya memberikan wawasan penting tentang proses penerjemahan informasi genetik menjadi protein. Selain itu, temuannya juga membantu menjelaskan bagaimana beberapa jenis antibiotik dapat menghambat fungsi ribosom pada bakteri, yang kemudian berkontribusi dalam pengembangan terapi medis yang lebih efektif.

Penghargaan dan Warisan

Setelah berhasil memetakan struktur ribosom, Yonath juga membantu menjelaskan bagaimana antibiotik tertentu bekerja dengan menargetkan ribosom bakteri. Temuannya ini sangat berpengaruh dalam dunia medis. Di sepanjang perjalanannya, ia juga mengembangkan berbagai metode inovatif, seperti cryo-bio-crystallography, yang kemudian banyak digunakan dalam penelitian biomolekuler. Selain itu, ia bahkan mengirim ribosom ke luar angkasa dalam dua belas misi NASA untuk meneliti bagaimana kristalisasi berlangsung dalam kondisi tanpa gravitasi.

Ketika menerima telepon dari Stockholm pada Oktober 2009, Yonath awalnya mengira itu hanyalah lelucon. Namun, penghargaan Nobel yang ia terima membuktikan bahwa kerja kerasnya selama puluhan tahun akhirnya diakui dunia. Sejak saat itu, ia semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Bahkan, ada ungkapan populer di Israel yang berbunyi, “Rambut keriting berarti kepala penuh ribosom,” merujuk pada ciri khas Yonath yang berambut keriting. Hingga kini, ia masih aktif meneliti di Weizmann Institute dan terus mengeksplorasi pertanyaan ilmiah tentang ribosom, termasuk bagaimana RNA kuno pertama kali menciptakan ikatan peptida dan berkontribusi pada asal mula kehidupan di Bumi.

Pada tahun 2009, Ada Yonath dianugerahi Hadiah Nobel dalam bidang Kimia, bersama dengan Venkatraman Ramakrishnan dan Thomas Steitz, atas kontribusinya dalam menentukan struktur ribosom. Penelitian mereka memiliki dampak besar dalam bidang biologi molekuler, pengembangan antibiotik, dan pemahaman tentang evolusi seluler.

Selain Nobel, ia juga menerima berbagai penghargaan prestisius, termasuk Penghargaan Wolf dalam Kimia (2007) dan Penghargaan L’Oréal-UNESCO untuk Perempuan dalam Sains (2008), sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap dunia sains.

Source: google.com

Kategori Terkait :

Pos Berikutnya:

Bagaimana Pendatamu:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BIODATA TERBARU

BIOGRAFI TERBARU